JERITAN HATI ANAK PAPUA SESAMA HIDUP DI TANAH AIR INDONESIA

PAPUA BARAT, teropongreformasi.com – Negara Indonesia dan dunia semestinya memahami dengan sungguh bahwa rasisme yang terus-menerus terjadi terhadap anak-anak asli Papua seperti halnya Natalius Pigay sudah menjadi salah satu akar masalah dalam pola hubungan Jakarta-Papua selama lebih dari 50 tahun terakhir ini, memasuki tahun 2021

Saya, Tuti Achmud Warepi asal Papua Barat secara langsung menyatakan Sikap tidak terima Atas Penghinaan sesama Bangsa atau Ras Asal Anak Papua khususnya, pada Selasa (27/01/21)

Menurut,Wanita ini, Tuti Achmud Warepi yang juga seorang Profesi Jurnalis dan Penulis ingin menunjukkan satu contoh yang Ber ETIKA kepada Ambroncius Nababan coba dilihat sebagaimana telah ditulis oleh Greg Poulgrain dalam bukunya berjudul Bayang Bayang Intervensi, Perang Siasat John F.Kennedy dan Alllen Dulles atas Sukarno, disebutkan terkait hilangnya Michael Rockefeller, anak laki-laki Gubernur New York, Nelson Rockefeller yang berumur 23 tahun.

Dia diduga hilang di wilayah pantai selatan Pulau Papua pada tanggal 18 November 1961, ketika dia sedang mengumpulkan barang artefak untuk museum bapaknya. Ketika itu media di seluruh dunia menulis bahwa orang-orang kanibal di Tanah Papua (Irian Barat) sudah memakan Michael Rockefeller, memakan dagingnya di pantai dengan sagu kala itu, nah ternyata, tegas Tuti Achmud Warepi Tentunya menjadi berita Opini.

Masih Menurut nya,Tuti Achmud Warepi tidak menemukan adanya investigasi yang memenuhi standar ilmiah dan teori hukum oleh pemerintah Indonesia maupun Amerika Serikat selama ini atas hilangnya Rockefeller junior tersebut.

Tapi “tuduhan” berbau rasis itu telah ditulis juga oleh Poulgrain dalam bukunya tersebut sebagai kematian yang disebabkan oleh kanibalisme, yang kemudian menjadi alat politik untuk menyangkal hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua kala itu, dan masa lampau berubah kemudian. Ini menjadi dampak politik dari kehilangan Rockefeller junior tersebut menjadi tragedi tetap membekas Traumatik tudingan yang tak beralasan atas peristiwa kala itu bagi rakyat Papua, merasa terpukul namun kini terulangnya kembali kejadian serupa bahkan Sadisnya Manusia yang Sempurna punya Akal untuk berpikir dianggap Hewan Sejenis yang tanpa akal pikiran disamakan ke Seekor Monyet Gorila sangat tidak beretika dan kurang Sopan Santun sebagai orang tidak menghargai kami Rakyat Papua yang tadinya nyaman bagi rakyat maupun masyarakat Papua terutama bangsa Indonesia, kini terusik oleh suku Batak marga Nababan atau na.lengkap Ambroncius Nababan dengan.mengatakan kalimat (RASISME) Radikalisme untuk perpecahan Ras, Suku, bangsa Indonesia.

Padahal ada saksi mata bersama Rene Wassing, seorang antropolog Belanda dari Biro Urusan Pribumi di Hollandia yang sedang dalam perjalanan naik kapal di sepanjang garis pantai Selatan Papua. Mereka (Rockefeller junior dan Wassing) bersama 2 (dua) orang polisi Papua. Wassing menjelaskan bahwa kapal dibangun dari 2 (dua) kano yang diikat.

Rockefeller junior menambah sebuah papan rata di bagian atas perahu. Kapal itu menggunakan mesin dari motor kecil. Setelah menyeberang muara Sungai Eilanden yang luasnya lebih dari 24 kilometer, kapal mereka itu terbalik dihantam arus sungai tersebut.

Jadi kedua polisi Papua memutuskan berenang ke tepi sungai, sedangkan Rockefeller junior dan Wassing terapung sambil berpegang pada kapal yang terbalik itu ke arah laut Arafura. Wassing adalah orang yang tahu apa yang dilakukan Rockefeller junior saat “meninggalkan” kapan untuk berenang “menuju daratan” yang sangat jauh.

Apa yang terjadi atas diri Rockefeller junior, tak ada seorang pun yang tahu hingga hari ini, karena ketiadaan investigasi, tapi stigma bahwa orang Papua Kanibal telah memakan daging tubuhnya menyebabkan hak membela diri orang Papua menjadi sirna hingga dewasa ini, itupun menurut juga dari Yan Christian Warinussy bersama Drs.Dominggus Mandacan mengecam Ucapan dari Ambroncius Nababan tersebut.

Rasisme terus dipupuk dan terkadang muncul dalam bentuk sikap dan perbuatan seperti yang dilakukan saudara Nababan terhadap Pigay beberapa hari lalu korban Bully maupun korban Rasis, sebutnya, Yan Christian Warinussy. Sehingga adalah sangat tidak adil jika hal ini tidak diproses secara hukum oleh Negara.

Atau di lokalisir menjadi isu pribadi antara Pigay dan Nababan semata, sebab perbuatan Nababan sudah terlalu manusiawi yang Sempurna Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dianggap sebagai bahan gunjingan perbedaan RAS bahkan menyamakan Hewan Sejenis Monyet Gorila sangat terlalu bersinggungan dengan harga diri rakyat Papua asli secara total, termasuk saya, Seorang Putri atau Wanita Asli kelahiran di Papua Barat, Tuti Achmud Warepi dan saudara lainnya yang telah berbeda dengan suku Batak yang merupakan rumah budaya saudara Nababan dan komunitasnya.
Maka kami Para Rakyat Papua Barat, meminta Pihak Mabes POLRI menyatakan Sikap Tegas menindaklanjuti Ujaran Kebencian menjadikan Perpecahan antar Suku Bangsa Indonesia di Nusantara ini yang harus di Sikapi Secara Serius.

Penulis :”Endy©–Dnst”

(Visited 387 times, 28 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *