Proyek Jembatan Alas Bayur Sangat Rawan, Pekerjaannya Patut Di laporkan dan Di Black List

Situbondo, teropongreformasi.com

Seperti yang sudah di tayangkan sebelumnya tentang Proyek Jembatan Alas Bayur sebagai penghubung Antara Desa Sumberanyar – Desa Alasbayur yang masih dalam pemantauan Lembaga Swadaya Masyarakat Reformasi dan LSM Siti Jenar sampai dengan saat ini ternyata memang perlu untuk di laporkan lebih detail mengenai pelaksanaannya dan juga bahan material galian C yang di gunakan.

Proyek pembangunan Jembatan Gantung di desa Alas bayur tersebut yang menggunakan APBN senilai Rp 8.081.520.000.00 di duga kuat sangat sarat dengan unsur KKN yang pada akhirnya memperlihatkan hasil yang kurang maksimal.


Seperti kita ketahui bersama bahwa pelaksana proyek itu adalah PT. BADJA KARYA NUSANTARA (Kontraktor Pelaksana) dan berdasarkan Informasi yang berhasil dihimpun, LSM Reformasi dan LSM Siti Jenar memperoleh info tentang bahan material batu kali yang di gunakan perusahaan tersebut untuk kebutuhan material badan jalan dan jembatan disuplai dari seorang mantan Kades yang juga suami dari Kades Desa Alas Bayur saat ini.

Bahkan bukan hanya menyuplai matrial ilegal saja, sang mantan kades itu pun juga sebagian mengambil peran disana ada mulai dari Seperti Pengecoran pemasangan pondasi dan lain lain.

Karena dalam hal ini walau kegiatan ini adalah kegiatan besar pengecoran tersebut memakai cara manual dan ironisnya jelas pekerja lokal tidak mempunyai skill atas Kegiatan besar semacam Ini sebagian pekerjaan di borong suami ibu tinggi, (Lurah) yang juga mantan Kades lama itu kurang lebih 850 juta, belum lagi Pengadaan Matrial Batuan dan lain lainnya.

Dalam hal ini, pengerjaan proyek jembatan gantung Alas Bayur CS ini kian mendapat sorotan tajam dari aktivis anti korupsi di antaranya LSM SITI JENAR dan LSM Reformasi di bawah kepemimpinan, Drs. Suyono, SH pasca ditemukannya pekerjaan yang semrawut dan rusak di beberapa titik padahal pekerjaan masih dalam tahap finishing.

Lebih lanjut eko Febrianto (sapaan red) kepada jurnalis TR mengatakan bahwa material yang diambil dari Sekitar proyek tidak memiliki izin karena kontrak kerja antara pemilik batu kali dengan Kontraktor, tanpa didasari izin yang dikeluarkan Dinas Terkait. Saya pastikan itu.ungkapnya

Sedangkan material yang sudah dipasok untuk kebutuhan peroyek tersebut(jembatan gantung Alas Bayur Cs) dengan masa kerja 84 hari ini diprediksi sudah mencapai ratusan bahkan ribuan kubik.

Harusnya kan Kontraktor seyogyanya taat pada aturan bukan hanya mencari keuntungan semata Perusahaan konstruksi yang menerima berbagai jenis material dari penambangan ilegal untuk pembangunan proyek, bisa dipidana sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.

Dia juga menambahkan, jika ada indikasi suatu proyek pembangunan menggunakan material dari penambangan tidak berizin, maka kontraktornya bisa dipidana.

Eko mencontohkan salah kontraktor di Kabupaten Brebes yang dipidana gara-gara yang bersangkutan terbukti menggunakan material bangunan dari penambangan ilegal maka daripada itu Aparat Penegak Hukum /APH di situbondo juga harus tegas mengenai hal ini.

Ditempat terpisah pemilik material yang juga suami kades alas bayur ini hingga saat ini masih belum bisa di konfirmasi, akan tetapi laporan juga masih akan segera di siapkan agar semuanya bisa mempertanggung jawabkan langkahnya sesuai dengan hukum yang berlaku.

Sementara itu Tim LSM Reformasi saat mendatangi kembali lokasi Proyek mendapatkan Kenyataan yang sangat Gila yaitu Longsor, hasil proyek bisa di duga asal – asalan dan sangat membahayakan para pengguna Jembatan Tersebut, intinya pekerjaan Proyek jembatan tersebut Sarat KKN, Hasil tidak memuaskan. (RED)

(Visited 583 times, 19 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *