Tergugat Rika Prenduan Kecewa terhadap Langkah Majelis Hakim Pengadilan Agama Sumenep dalam Sidang Gugat Cerai Talak

Sumenep, teropongreformasi.com

Arikatul Mahmudah, 19 tahun warga Desa Prenduan Dusun Pengelen Kabupaten Sumenep sangat kecewa terhadap Langkah sidang yang di gelar oleh Majelis Hakim sesaat setelah di nyatakan Putus dalam perkara nomor 254/Pdt.G/2020/PA.Smp.

Arikatul Mahmudah ( Tergugat )

Di katakan bahwa putusan itu sepihak dan dirinya merasa di permainkan oleh Ketua Majelis Hakim dan juga Jamaludin selaku Pengacara Penggugat, pasalnya langkah yang di ambil oleh Pengadilan Agama dalam proses Persidangannya di duga sangat kuat terjadi Konspirasi sehingga sangat merugikan dirinya selaku Tergugat.

Jamaludin, Kuasa hukum Penggugat

Menceritakan pada Tim TR yang ikut juga memantau tentang Proses Persidangan tersebut bahwa saat dirinya datang ke Pengadilan Agama Sumenep kali ini, Senin, 24 Februari 2020 untuk memenuhi panggilan sebagai kelanjutan panggilan sidang setelah sidang pertama di gelar sebelumnya, karena pada saat sidang pertama dirinya ( Arikatul Mahmudah – Red ) menderita sakit sehingga tidak bisa menghadiri sidang, karena itu pada saat sidang kedua dirinya ( Rika – Nama Panggilan – Red ) telah datang lwbih awal saat Pengadilan Agama belum memulai Acara Sidang, kemudian dirinya duduk di luar sebentar dan selanjutnya mengambil nomor antrian sidang 07.

Ketua PA Sumenep yang tidak bisa di temui tim TR

Selanjutnya setelah suaminya, Abd.Azis selaku Penggugat datang bersama rombongan keluarganya akhirnya mereka berdua masuk bersama dan menyerahkan nomor antrian pada petugas, akan tetapi sangat aneh saat itu, Rika di ajak suaminya ke ruangan tunggu lain dan sangat kelihatan sekali kata rika pada pengacara Jamaludin selaku kuasa hukum Abd.Azis ( Penggugat – Red ) yang wira – wiri dan selanjutnya mengatakan bahwa sidang sudah selesai dan sudah di putus oleh Ketua Majelis.

Kejadian ini akhirnya membuat Rika dan seluruh keluarganya marah karena sesuatu yang sangat aneh telah terjadi, proses persidangan yang tidak di gelar di depan dirinya, padahal saat sebelum sidang dirinya ( Rika – Red ) sudah hadir, sangat terlihat sekali bahwa proses sidang yang di lakukan oleh Pengadilan Agama Sumenep sangat sarat dengan unsur KKN, menggampangkan segala cara dan di duga tidak sesuai dengan prosedur yang ada.

Sampai berita ini di tulis, Rika bersama seluruh keluarganya akan mengirimkan surat pada Mahkamah Agung serta beberapa pihak terkait kekecewaannya terhadap langkah proses Persidangan yang sangat aneh dan sepihak di Pengadilan Agama Sumenep, hal ini juga di dukung oleh Aktifis LSM Hrton yang saat itu juga mengawal dan sangat mengetahui terhadap proses aneh Pengadilan Agama Sumenep, sementara itu dari pihak pengadilan Agama Sumenep, Lasman selaku panitera yang juga sempat memberikan keterangan pada Tim TR mengatakan secara jelas bahwa proses sidang sesuai prosedural sebenarnya adalah sidang yang di gelar pertama untuk Gugat Cerai di lakukan Mediasi, apabila tidak datang untuk Tergugat maka pada sidang kedua akan di lakukan lagi mediasi dan berlanjut dengan tanya jawab dan seterusnya sampai mendatangkan saksi sampai selesai.

Dari hal tersebut Hrtono selaku aktifis LSM Reformasi mengatakan bahwa bisa di pastikan bahwa Proses acara sidang yang di gelar oleh Pengadilan Agama Sumenep selama ini Sangat kuat dugaannya Masuk dalam unsur KKN karena satu contoh Rika yang sudah jelas ada saat sidang belum di mulai akan tetapi masih saja Di Putuskan tidak di depan Rika, artinya Rika tidak di beri kesempatan untuk menjawab Gugatan yang di ajukan Oleh Abd. Azis, di katakannya juga bahwa Pengadilan Agama Sumenep juga di duga kuat Membodohi Masyarakat, mempermainkan dan Menjadikan Sidang Pengadilan sebagai tempat basah yang bisa di jadikan ladang Kehidupannya, Masyarakat seolah – olah di buat sebagai Domba yang siap untuk di jadikan makanan empuk kehidupannya. RED.

(Visited 1.243 times, 11 visits today)

One thought on “Tergugat Rika Prenduan Kecewa terhadap Langkah Majelis Hakim Pengadilan Agama Sumenep dalam Sidang Gugat Cerai Talak

  1. Namanya pengadilan tentu tempat untuk mencari keadilan. Tapi kalau prosesnya sudah Kong kalikong dapat dipastikan amar keputusannya merugikan orang lain menguntungkan diri sendiri. Patut dituntaskan di jalan yang benar !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *