Akhirnya pelaporan Ketum Siti Jenar Mendapatkan Apresiasi dari Semua pihak terkait

Situbondo, teropongreformasi.com

Terkait Pelaporan ketua Umum LSM SITI JENAR (Situbondo Investigasi Jejak Kebenaran) kemarin Senin 3 Februari 2020 ke Polda dan Divre Perhutani jatim. Menuai hasil positiv Setelah Press Realese Kapolres Situbondo Seperti yang dilansir Beberapa media bahwa bahwasanya kapolres Berjanji akan menuntaskan kasus Ilegal Logging yang marak di kawasan Hutan Situbondo kini giliran Utusan DIVRE PERHUTANI JAWA TIMUR yang akan dijadwalkan Tiba di Situbondo menemui Ketua Lsm Siti Jenar esok Rabu 5 Februari 2020 yang dalam hal ini diwakili oleh Bapak Miswanto (Kepala seksi keamanan Hutan DIVRE PERHUTANI JATIM) yang mana beliau adalah pejabat yg yerkait penanganan gangguan keamanan hutan Seregional jawa timur.

Sementara menurut Tanggapan Ketum Siti Jenar Eko Febrianto saat di Wawancarai Oleh Awak media Hanya mengutarakan Mirisnya akan Pembalakan liar yang makin hari makin tidak terkontrol Wajah lahan semakin menggundul. Maka tak heran, setiap musim hujan tiba, luapan air sungai yang besar seketika menjelma jadi banjir, karena hilangnya fungsi hutan dalam hal ini Eko menghimbau Jangan sampai kerusakan ekosistem menuai amukan alam. dimana pegunungan kian tandus.hutan terasa makin menipis. Pembalakan liar begitu marak di sekitar hutan Pembalakan liar harus segera diatasi, kelestarian hutan kita perlu dijaga bersama. Sebab, bila tidak ada ketegasan, maka ancaman banjir akan jadi momok yang mencemaskan.Oleh karena itu, gerakan penghijauan perlu dilakukan secara masif nantinya dan, pemerintah pusat dan daerah juga harus pro-aktif mengatasi persoalan ini. Himbau ketua umum lsm siti Jenar.

Kita harus bisa bersinergi dengan pemuda-pemudi desa. Di desa cukup banyak organisasi kemasyarakatan, kepemudaan, dan keagamaan yang bisa diorganisir sebagai garda terdepan dalam gerakan penghijauan. Jiwa gotong royong dan semangat keswadayaan yang masih berurat-akar di desa bisa menjadi modal kultural dalam menyelamatkan lingkungan agar tetap lestari.

Dalam konteks ini, pemerintah pusat dan daerah perlu optimal untuk memberikan edukasi konseptual kepada aparatur teknis, dan sosialisasi kepada masyarakat akan bahaya kerusakan hutan. Pembuatan regulasi untuk mengatasi sengkarut persoalan penjarahan hutan bisa dilakukan, namun benar-benar mengakomodasi aspirasi semua pihak. Sehingga pemerintah beserta masyarakat dapat melestarikan lingkungan melalui pemanfaatan lahan hutan secara produktif yang berbasis partisipasi masyarakat.

Saya kira kehadiran pemerintah dapat mendorong manajemen hutan yang bersifat programatik, misalnya program agroforestri dan perhutanan sosial secara integral dan berkelanjutan. Hal itu bisa memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat, sekaligus memanfaatkan produktivitas lahan, juga merawat kualitas lingkungan. Aktivitas agroforestri dapat dilaksanakan lewat produksi tanaman berupa pohon-pohon kayu.

Apalagi di sekitar itu, dipadukan pula dengan peternakan, dengan mengatur ruang yang memadai. Melalui agroforestri yang menggabungkan secara integral antara pertanian dengan kehutanan plus peternakan, maka laju kerusakan lingkungan akibat pemanasan global dapat dikurangi. Pengelolaan lahan yang berorientasi tata kelestarian lingkungan, kearifan budaya setempat dan pengokohan peran ekosistem hutan adalah upaya-upaya yang bisa dilakukan secara berkesinambungan.

Kesadaran ekologis masyarakat jaman now memang masih minim. Gaya hidup yang permisif, tak jarang menabrak rambu-rambu kelestarian lingkungan. Oleh sebab itu, menanam pohon-pohon produktif sebanyak-banyaknya sangat urgen, agar buah kemanfaatannya, tidak saja dipetik oleh generasi sekarang, tapi juga generasi mendatang tambah Eko.

Hutan sebagai jangkar ekosistem sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya banjir. Tidak kah kita sadari bahwa hutan itu penting guna menjaga tata air dan kesuburan tanah? Dalam konteks inilah peran tokoh agama, yakni bagaimana merumuskan teologi lingkungan untuk kemaslahatan umat.

Saya kira sudah seharusnya kita dan para environmentalist, aktivis lingkungan, rimbawan/rimbawati dan pecinta alam mesti berkolaborasi dengan pemuka agama untuk mengkhotbahkan isu-isu lingkungan hidup dan jihad penyelamatan hutan. Para ulama di tiap daerah mesti mengeluarkan fatwa progresif agar umat beragama menangkal setiap upaya perusakan hutan dan lingkungan. Terlebih, dalam ajaran agama (Islam), kita sebagai manusia wajib menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, termasuk harmoni dengan alam. Pungkas Eko Febrianto Ketua Umum LSM SITI JENAR.(sup)

(Visited 78 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *